MEMOTIVASI SISWA BELAJAR MELALUI PERMAINAN MENEBAK TANGGAL LAHIR
Prestasi matematika Indonesia
Jumlah Jam Pelajaran dan Prestasi tak Sebanding
BANDUNG, 2007 (PR).-
Mutu pendidikan Indonesia, terutama dalam mata pelajaran matematika, masih rendah. Data UNESCO menunjukkan, peringkat matematika Indonesia berada di deretan 34 dari 38 negara. Sejauh ini, Indonesia masih belum mampu lepas dari deretan penghuni papan bawah.
Hasil penelitian tim Programme of International Student Assessment (PISA) 2001 menunjukkan, Indonesia menempati peringkat ke-9 dari 41 negara pada kategori literatur matematika. Sementara itu, menurut penelitian Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS) 1999, matematika Indonesia berada di peringkat ke-34 dari 38 negara (data UNESCO).
Hal itu terungkap dalam konferensi pers The First Symposium on Realistic Teaching in Mathematics di Majelis Guru Besar (MGB) ITB, Jln. Surapati No. 1, Bandung, Senin (16/1). "Peringkat Indonesia berada di bawah Malaysia dan Singapura," ujar Drs. Firman Syah Noor, M.Pd., Ketua Asosiasi Guru Matematika Indonesia (AGMI).
Padahal, berdasarkan hasil penelitian TIMMS yang dilakukan oleh Frederick K. S. Leung pada 2003, jumlah jam pengajaran matematika di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan Malaysia dan Singapura. Dalam satu tahun, siswa kelas 8 di Indonesia rata-rata mendapat 169 jam pelajaran matematika. Sementara di Malaysia hanya mendapat 120 jam dan Singapura 112 jam.
Namun, hasil penelitian yang dipublikasikan di Jakarta pada 21 Desember 2006 itu menyebutkan, prestasi Indonesia berada jauh di bawah kedua negara tersebut. Prestasi matematika siswa Indonesia hanya menembus skor rata-rata 411. Sementara itu, Malaysia mencapai 508 dan Singapura 605 (400 = rendah, 475 = menengah, 550 = tinggi, dan 625 = tingkat lanjut).
"Waktu yang dihabiskan siswa Indonesia di sekolah tidak sebanding dengan prestasi yang diraih. Itu artinya, ada sesuatu dengan metode pengajaran matematika di negara ini, seperti yang ditemukan dalam penelitian Frederick dari TIMMS," tutur Firman.
Dalam penelitian itu, Frederick yang berasal dari The University of Hongkong menyebutkan, mayoritas soal yang diberikan guru matematika di Indonesia terlalu kaku. Umumnya, siswa di Indonesia lebih banyak mengerjakan soal yang diekspresikan dalam bahasa dan simbol matematika yang diset dalam konteks yang jauh dari realitas kehidupan sehari-hari.
"Akibatnya, siswa sering kali merasa bosan dan menganggap matematika sebagai pelajaran yang tidak menyenangkan. Mereka pun tidak mampu menerapkan teori di sekolah untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari," ujar Firman.
nara sumer : Pengajar SMAN 3 Bandung
CARA AMAN MEMBERANTAS NYAMUK ( FORWARD DARI TEMAN)
Daripada meracuni nyamuk sambil meracuni diri sendiri..lebih baik gunakan cara ini.
CARA MUDAH DAN MURAH BERANTAS NYAMUK
Nyamuk cukup mengganggu dan sangat berbahaya sebagai penyebar berbagai penyakit mematikan.
Cairan pembunuh serangga di pasaran kurang efisien dan bahkan membawa dampak sampingan yang serius.
Berikut ini cara MUDAH dan MURAH yang bisa dicoba.
Cocok untuk segala kondisi pemukiman, sekolah, rumah sakit, dll.
Sangat KREATIF bila dikenalkan pada para siswa sekolah untuk dicoba di sekolah dan di rumah
masing-masing.
Yang dibutuhkan :
- 200 ml air
- 50 gram gula merah
- 1 gram ragi (beli di toko makanan kesehatan,
warung, atau pasar)
- botol plastik 1,5 liter
Langkah-langkah pembuatan
1. Potong botol plastik di tengah.
Simpan bagian atas/mulut botol.
http://f762.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f172775%5fAHpzbHwAAEdgTL1J%2fAIVnl%2bITrI&pid=2.2&fid=Inbox&inline=1
2. Campur gula merah dengan air panas.
Biarkan hingga dingin dan kemudian tuangkan di separuh bagian potongan bawah botol.
3. Tambahkan ragi.
Tidak perlu diaduk.
Ini akan menghasilkan karbon-dioksida.
4. Pasang/masukkan potongan botol bagian atas dengan posisi terbalik seperti corong.
5. Bungkus botol dengan sesuatu yang hitam, kecuali bagian atas, dan diletakkan di beberapa
sudut rumah Anda.
Dalam dua minggu, Anda akan melihat jumlah nyamuk yang mati di dalam botol.
Selain membersihkan habitat mereka, tempat berkembang biak nyamuk, kita dapat
menggunakan metode ini sangat berguna di sekolah-sekolah, TK, rumah sakit dan rumah.
(Sebarkan kepada anak, teman, dan kerabat Anda agar nyamuk bisa diberantas)
NILAI UKK KELAS X.3 SMAN 1 SINGAPARNA
| NO | NAMA | NILAI |
| 1 | ANDIRA H.P | 66 |
| 2 | ANGGA | 58 |
| 3 | ASYPA | 70 |
| 4 | AZIS | 52 |
| 5 | BAEHAQI | 88 |
| 6 | DEDE ITA | 56 |
| 7 | DESI I | 66 |
| 8 | DESI FARIDA | 70 |
| 9 | DHELA P R | 52 |
| 10 | DINI PEBRIYANI | 76 |
| 11 | ENDAH PRATIWI | 75 |
| 12 | ERVINA L | 68 |
| 13 | FADLI YUSUP | 58 |
| 14 | FITRIA HASAN | 75 |
| 15 | GUSMAN ARI | 78 |
| 16 | HANIPAH NURAZIZAH | 72 |
| 17 | IKKA TRIANA | 70 |
| 18 | IRMA AMALIA | 50 |
| 19 | IRMA HERMAYANTI | 64 |
| 20 | KAMILAH NOER | 88 |
| 21 | LINDA NURINDAH | 40 |
| 22 | MEGA MEDINA | 82 |
| 23 | MENDHY WK | 78 |
| 24 | METI AGNI | 86 |
| 25 | NISA FADJRIN | 50 |
| 26 | NOOR DEWI K | 50 |
| 27 | RANDI PRATAMA | 50 |
| 28 | RANI DESTIANA | 51 |
| 29 | RHESTY | 76 |
| 30 | RISTA SUNDARI | 75 |
| 31 | RIYAN | 87 |
| 32 | SOFYAN | 72 |
| 33 | TENDI R | 58 |
| 34 | WILDAN | 52 |
| 35 | YULIANI S R | 50 |
UNTUK YANG NILAINYA MASIH DIBAWAH KKM 75
DIWAJIBKAN UNTUK MENGERJAKAN TUGAS DIBAWAH INI :
1. BUATLAH KELOMPOK (X) YANG TERDIRI DARI : (X < 5 ORANG,) 2. SETIAP KELOMPOK HARUS MEMBUAT BAHAN AJAR ATAU RINGKASAN MATERI DALAM POWER POINT 3. MATERI DIAMBIL DARI SEMESTER 1 DAN 2, DIPILIH SECARA UNDI BERDASARKAN BANYAK KLMPK 4. DIKUMPULKAN DALAM CD PALING LAMBAT TGL 18 JUNI 5. PENILAIAN BERDASARKAN STRUKTUR MATERI DAN VARIASI TAMPILAN
KUMPUL BARENG MATH 90
APAKAH SATU BISA SAMA DENGAN DUA
10 KEBIASAAN BURUK ( email dari temen)
10 KEBIASAAN BURUK YANG MERUGIKAN OTAK KITA1. Tidak sarapan pagi. Orang yang tidak sarapan pagi kandungan gula darahnya jadi rendah. Ini mengakibatkan tidak cukupnya asupan nutrisi ke otak yang menyebabkan degenerasi fungsi otak.
2. Terlalu banyak makan. Terlalu banyak makan mengakibatkan pengerasan saluran darah di otak, yang selanjutnya mengakibatkan menurunnya daya pikir.
3. Merokok. Merokok mengakibatkan otak mengecil dan ini bisa menyebabkan penyakit Alzheimer.
4. Mengkonsumsi gula kelewat banyak. Gula yang kelewat banyak berarti menurunnya daya serap protein dan nutrisi penting sehingga kita menderita kurang gizi dan mengganggu pertumbuhan otak.
5. Pencemaran udara. Otak adalah konsumen oksigen terbesar di tubuh kita. Menghirup udara tercemar mengurangi asupan oksigen ke otak, sehingga kerja otak kurang effisien.
6. Kurang tidur. Tidur memberi kesempatan otak kita untuk beristirahat. Kurang tidur secara terus menerus dalam waktu lama akan mempercepat kematian sel-sel otak.
7. Tidur menutup kepala. Tidur dengan kepala ditutup meningkatkan konsentrasi CO2 dan menurunkan konsentrasi O2 dan ini merusak otak.
8. Banyak berpikir waktu sakit. Bekerja keras atau belajar waktu sakit tidak saja mengurangi efektivitas otak tapi juga merusak otak.
9. Tak adanya rangsangan berpikir. Berpikir adalah cara terbaik melatih otak. Kalau otak dibiarkan tanpa rangsangan berpikir, lama kelamaan dia akan mengecil.
10. Jarang bicara. Pembicaraan bermutu akan meningkatkan efisiensi otak.
10 Ciri Orang Berpikir & Bersikap Positif
Semua orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti tahu bahwa hidup kan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran positiflah yang 'beredar' di kepala kita, tak banyak yang tahu. Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai mencoba meniru jalan pikirannya.
1. Melihat masalah sebagai tantangan. Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.
2. Menikmati hidupnya
1. Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.
2. Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide. Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik.
3. Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak Memelihara' pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.
4. Mensyukuri apa yang dimilikinya Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya.
5. Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu. Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.
6. Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya. NARO (No Action Review Only), NADO (No Action Dream Only), NATO (No Action Talk Only), NACO (No Action Concept Only), NABO (No Action Briefing Only), NAMO (No Action Meeting Olny), NASO (No Acton Strategy Only)
7. Menggunakan bahasa positif. Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti "Masalah itu pasti akan terselesaikan, " dan "Dia memang berbakat."
8. Menggunakan bahasa tubuh yang positif Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan 'hidup'.
9. Peduli pada citra diri. Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam.
Seandainya setiap warga Indonesia memiliki sikap2 tersebut. Tidak hanya menuntut orang untuk memahaminya, tetapi berusaha memahami orang lain. Dan dengan sikap positif kita, lebih menghargai perbedaan. Pasti akan lebih
INDAHNYA MATEMATIKA (email dari kawan)
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321
1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111
9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888
sekarang perhatikan simetrisnya
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321
sekarang perhatikan ini
101% dari sudat pandang matematika murni
Apa yang dimaksud dengan 100%?
Apa yang dimaksud dengan memberi lebih dari 100%?
Pernah memikirkan tentang orang2 yg memberikan lebih dari 100%?
Kita pasti pernah berada pada situasi dimana orang2 ini kita utk memberikan lebih dari 100%
Tapi bagaimana dgn menerima 101%?
Ini sedikit rumus matematika yg dibayangkan
jika :
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
disetarakan dengan :
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26.
jika:
H-A- R- D –W – O - R- K
8+1+18+4+23+ 15+18+11 = 98%
dan:
K - N – O –W – L - E- D -G- E
11+14+15+23+ 12+5+4+7+ 5 = 96%
maka:
A- T – T – I – T - U – D -E
1+20+20+9+20+ 21+4+5 = 100%
sekarang, berapa yang diberikan oleh love of God:
L – O – V – E – O - F- G -O-D
12+15+22+5+15+ 6+7+15+4 = 101%
kesimpulannya dalam matematika:
ketika hardwork dan knowledge akan membawamu ke arah 100% kemampuanmu, maka attitude akan membuatmu sempurna 100%.
Tapi hanya love-of-god yang akan membuatmu melebihi kemampuan yang ada pada dirimu.
musibah berantai
Suatu sore telepon berbunyi.
"Hallo, Pak Buto? Ini saya, tuan, Idum,
pembantu di villa bapak.."
"Oh iya. Ada apa Dum? Ada masalah?
"Anu... saya nelepon cuma mau ngasih tau,
burung kakaktua bapak mati.."
"Kakaktua saya? Mati? Yang pernah menang di
Lomba Tingkat Dunia itu??"
"Ya tuan..yang itu"
"Waduh sial juga ya...lumayan banyak juga tuh
duit keluar buat ngelatih tu burung ...
matinya kenapa dum?"
"Gara2 makan daging busuk, tuan"
"Daging busuk??
Siapa yang ngasih dia daging busuk??!!"
"Ngga ada tuan..dia cuma makan daging kuda yang
udah mati."
"Kuda mati? Kuda mati apa??"
"Kuda punya tuan."
"Kuda yang menang pacuan internasional itu?!!!"
"Iya tuan, Dia mati kecapen setelah narik
gerobak tong air."
"Lu gila ya? gerobak air apaan???"
"Gerobak air buat madamin api, tuan"
"Ya ampuun.. api apa lagi???"
"Api di rumah tuan! Ada lilin yang jatuh dan
apinya kena tirai.. trus merembet deh."
"Ja.. jadi.. maksud lu villa mewah gua itu ancur
berantakan gara2 lilin?!!!"
"Begitulah, tuan."
"Tapi kan disitu banyak lampu!!! Tu lilin buat
apaan???"
"Buat pemakaman, tuan."
"Demi Tuhan, pemakaman apa dumm??!!"
"Pemakaman istri tuan.. Suatu malam dia
berjalan2 di dalam rumah yang gelap gulita,
saya pikir maling, jadi saya hajar
aja dia pake tongkat golf Nike tuan..."
Sunyi....... ......... .. ,
Sunyi cukup lama....
"Dum....lu bener2 dalam bahaya besar, kalo tu
tongkat ampe patah....."
BIB dan BOB
> > > Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati
lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang
beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.
Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop
yang berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat
seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib
untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.
> > > > Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa
diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut.
Bob mengumpulkan sangat banyak permen
lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan
permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak
pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua
permen yang dilihatnya.
> > > > Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia
melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah
permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk
sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di
lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu
mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih
menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar
pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia
telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop
yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang
membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu,
"Permennya saya lupa makan!"
> > > > Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen
lolipop. "Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil
kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil
saya?" tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen
anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan
lembah, indah sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu
tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia
berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan
bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa
bersama." Bib menambahkan.
> > > > Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia
lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk
mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan
tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk
memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.
> > > > Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal
dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang
berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana
saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam
hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop
sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.
> > > > Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja.
Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita
menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi
lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.
> > > > Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika
saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya
mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah
menikah... nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada
saat suami saya lebih mencintai saya... nanti pada saat saya telah
meraih semua impian saya... nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "
> > > > Pemikiran 'nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat
'sekarang'. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita
konsepkan tentang masa 'nanti' bahagia. Terkadang jika saya renungkan
hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam
hidup ini untuk masa 'nanti' bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi
sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa 'nanti' bahagia
itu. Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus
kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target
itu... tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.
> > > > Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita
duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita
mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama
keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan
beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi lebih indah.
> > > > Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran;
memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari
setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah
anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan
menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa
disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang
ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa
kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati
perjalanannya di lembah permen lolipop.
cerita pendek
|
| Impian seorang Gadis
| |
| i |
| |
Hari pertama kuliah di kampus, profesor memperkenalkan diri dan menantang kami untuk berkenalan dengan seseorang yang belum kami kenal. Saya berdiri dan melihat sekeliling ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahu saya.
Saya menengok dan mendapati seorang wanita tua, kecil, dan berkeriput, memandang dengan wajah yang berseri-seri dengan senyum yang cerah.Ia menyapa, "Halo anak cakep. Namaku Rose. Aku berusia delapan puluh tujuh. "Maukah kamu memelukku?" Saya tertawa dan dengan antusias menyambutnya, "Tentu saja boleh!".
Dia pun memberi saya pelukan yang sangat erat. "Mengapa kamu ada di kampuspada usia yang masih begitu muda dan tak berdosa seperti ini?" tanya saya berolok-olok. Dengan bercanda dia menjawab, "Saya di sini untuk menemukan suami yang kaya, menikah, mempunyai beberapa anak, kemudian pensiun dan bepergian."
"Ah yang serius?" pinta saya. Saya sangat ingin tahu apa yang telah memotivasinya untuk mengambil tantangan ini di usianya. "Saya selalu bermimpi untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan kini saya sedang mengambilnya!" katanya. Setelah jam kuliah usai, kami berjalan menuju kantor senat mahasiswa dan berbagi segelas chocolate milkshake. Kami segera akrab. Dalam tiga bulan kemudian, setiap hari kami pulang bersama-sama dan bercakap-cakap tiada henti. Saya selalu terpesona mendengarkannya berbagi pengalaman dan kebijaksanaannya. Setelah setahun berlalu, Rose menjadi bintang kampus dan dengan mudah dia berkawan dengan siapapun. Dia suka berdandan dan segera mendapatkan perhatian dari para mahasiswa lain. Dia pandai sekali menghidupkannya suasana.
Pada akhir semester kami mengundang Rose untuk berbicara di acara makan malam klub sepak bola kami. Saya tidak akan pernah lupa apa yang diajarkannya pada kami. Dia diperkenalkan dan naik ke podium. Begitu dia mulai menyampaikan pidato yang telah dipersiapkannya, tiga dari lima kartu pidatonya terjatuh ke lantai. Dengan gugup dan sedikit malu dia bercanda pada mikrofon. Dengan ringan berkata, "Maafkan saya sangat gugup. Saya sudah tidak minum bir. Tetapi wiski ini membunuh saya. Saya tidak bisa menyusun pidato saya kembali, maka ijinkan saya menyampaikan apa yang saya tahu."
"Kita tidak pernah berhenti bermain karena kita tua. Kita menjadi tua karena berhenti bermain. Hanya ada empat rahasia untuk tetap awet muda, tetap menemukan humor setiap hari. Kamu harus mempunyai mimpi. Bila kamu kehilangan mimpi-mimpimu, kamu mati. Ada banyak sekali orang yang berjalan di sekitar kita yang mati namun mereka tak menyadarinya." "Sungguh jauh berbeda antara menjadi tua dan menjadi dewasa. Bila kamu berumur sembilan belas tahun dan berbaring di tempat tidur selama satu tahun penuh, tidak melakukan apa-apa, kamu tetap akan berubah berubah menjadi dua puluh tahun. Bila saya berusia delapan puluh tujuh tahun dan tinggal di tempat tidur selama satu tahun, tidak melakukan apapun, saya tetap akan menjadi delapan puluh delapan. Setiap orang pasti menjadi tua. Itu tidak membutuhkan suatu keahlian atau bakat. Tumbuhlah dewasa dengan selalu mencari kesempatan dalam perubahan."
"Jangan pernah menyesal. Orang-orang tua seperti kami biasanya tidak menyesali apa yang telah diperbuatnya, tetapi lebih menyesali apa yang tidak kami perbuat. Orang-orang yang takut mati adalah mereka yang hidup dengan penyesalan."
Rose mengakhiri pidatonya dengan bernyanyi "The Rose". Dia menantang setiap orang untuk mempelajari liriknya dan menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Akhirnya Rose meraih gelar sarjana yang telah diupayakannya sejak beberapa tahun lalu. Seminggu setelah wisuda, Rose meninggal dunia dengan damai. Lebih dari dua ribu mahasiswa menghadiri upacara pemakamannya sebagai penghormatan pada wanita luar biasa yang mengajari kami dengan memberikan teladan bahwa tidak ada yang terlambat untuk apapun yang bisa kau lakukan. Ingatlah, menjadi tua adalah kemestian, tetapi menjadi dewasa adalah pilihan.
Sediakan waktu untuk berpikir, itulah sumber kekuatan.
Sediakan waktu untuk bermain, itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca, itulah landasan kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk berteman, itulah jalan menuju kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk bermimpi, itulah yang membawa anda ke bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai, itulah hak istimewa Tuhan.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.
Sediakan waktu untuk tertawa, itulah musik jiwa.
(Doa Inggris Kuno)
. Rasa Sayang Itu Selalu Ada
"Ayah..., sakit!!!" teriaknya sambil mencoba berontak ketika sebuah alat dimasukkan ke dalam lubang telinganya. Namun dengan sigap sepasang tangan memeluknya erat. Tangan itu kokoh dan kuat, terlihat dari urat-urat yang menonjol jelas. Anak kecil itu kembali meronta kesakitan, namun apalah arti tenaganya dibandingkan dengan sepasang tangan mantan pemain rugby tersebut. Lelaki itu memang terlihat tegar sambil memangku dan mendekap anaknya. Perawakan tinggi besar dan kulitnya yang hitam semakin menampilkan sosok yang sangar. Penampilannya kian sempurna dengan sikap keras yang ia tunjukkan terhadap anak-anaknya. Ancaman lecutan kayu kecil, ataupun hardikan bernada marah adalah suatu hal yang biasa terlontarkan.
Namun tak urung teriakan kesakitan dari buah hatinya itu menciptakan riak kecil di telaga matanya yang tajam. Jeritan seorang anak laki-laki yang biasanya bergerak lincah, namun sekarang terlihat menderita. Mata sayu menghiasi air muka yang pucat, bibir yang pecah-pecah karena dehidrasi serta ingus yang telah bercampur darah tampak jelas meleleh dari hidungnya.
Serangan virus influenza yang sudah parah dan gejala pneumonia, kata dokter dalam bahasa Inggris yang terpatah-patah. Tak ada jalan terbaik, kecuali harus rawat inap beberapa hari di Iizuka Byouin. Lelaki yang sering terlihat tegang itu pun tak tahan menyembunyikan sesegukan isakan, wajahnya basah. Aku yang berdiri di sampingnya juga tanpa sadar meneteskan air mata.
Aku yakin, di balik sikapnya sehari-hari yang terlihat angkuh dan keras, rasa sayang di hatinya niscaya selalu ada. Bukankah perasaan sayang ini adalah fitrah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang selayaknya ada pada setiap ayah. Rasa sayang yang berbunga cinta itu akan menjadikan seorang ayah rela bercucuran keringat, bahkan nanah dan darah untuk anak-anaknya.
Anak bagi sebuah keluarga memang layaknya permata yang indah. Ia umpama cahaya yang menyinari kehidupan rumah tangga. Karenanya tak heran seorang ayah siap berkorban jiwa dan raga demi buah hati tercinta. Letih dan uzur yang meranggas tubuhnya pun tak pernah dihiraukan. Luapan sayang itu begitu bergelora memenuhi rongga dada, hingga kadang melalaikan rasa sayang dan cinta kepada kekasih yang sesungguhnya.
Sore pun menjelang. Setelah mengurus administrasi yang diperlukan untuk rawat inap, kami lantas bergegas pulang. Ayah dari anak laki-laki itu pulang sebentar ke rumah untuk mengambil beberapa barang keperluan, sedangkan aku mesti ke kampus karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Tak banyak yang kami bicarakan selama perjalanan, diam dibaluri suara mobil yang melantun pelan.
Pikiranku lalu melayang-layang, mengembara dan bersua dengan buah hati tercinta di rumah, Asy Syifa. Ia lucu dan tampak cantik dengan jilbab mungilnya. Mata indahnya berbingkai bulu mata yang lentik dan panjang. Celotehan dan gerak-geriknya pun selalu kurindukan. Semua itu membuat rasa sayang dan cinta kepadanya selalu berlimpah ruah. Aku merasa wajar saja, karena perasaan itu selalu ada pada diri setiap ayah, bahkan pada seorang Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam, khaliluLlah.
Tanpa terasa kami telah tiba di lapangan parkir kampus Kyuukoudai, dan aku terburu-buru menuju lab. Setelah istirahat sejenak, kuhidupkan komputer. Klik icon MATLAB pada monitor, dan konsentrasi melanjutkan pemrograman seraya memasang earphone. Lalu jari-jemari menari di atas keyboard sembari asyik mendengarkan musik. Senandung nasyid Belajar dari Ibrahim-nya Snada pun mengalun perlahan dengan nada indah.
Sering kita merasa taqwa...Tanpa sadar terjebak rasa...Dengan sengaja mencuri-curi....Diam-diam ingkar hati...
Pada Allah mengaku cinta...Walau pada kenyataannya...Pada harta, pada dunia...Tunduk seraya menghamba.
Deg!!!......Jari-jemariku mendadak kelu, dan aku pun tercenung. Allahumma inni asaluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal 'amala alladzi yubalighuni ilaa hubbika. Allahummaj'al habbaka ahabbu ilayya min nafsii wa hlii waminal maailbaarid.
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kecintaan-Mu, kecintaan orang-orang yang mencintai-Mu dan amal yang menyampaikanku pada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku dan air yang sejuk/dingin (harta). WaLlahua'lam bi shawab.
Abu Aufa ferryhadary@yahoo.com
eramuslim.com
. Dimensi Ketaqwaan Seorang Mukmin
Ada seorang alim dan orang-orang memanggilnya "kyai", berpakaian seperti orang Arab bersurban berbaju ghamis, rajin ke masjid dan berlama-lama di masjid karena berdzikir/wirid dengan membaca kalimat/ayat beratus bahkan beribu kali. Setiap Ramadhan tak pernah batal puasanya dan sudah berhaji bahkan lebih dari 3 kali. Tetapi dia sering lupa kalau ucapan dan perilakunya kadang-kadang menyakiti orang lain dengan cemoohannya, seolah-olah dia yang paling baik. Apakah itu yang dinamakan taqwa?
Ada seorang miskin dan bersahaja, rumahnya di pinggiran dan jauh ke masjid/surau, sehingga ke masjid sepekan sekali setiap Jum'at saja begitu pula shalatnya biasa saja, puasa Ramadhan sering berhalangan karena kondisi yang tidak memungkinkan, tidak pernah berzakat, berhaji hanyalah impian. Namun tidak pernah menyakiti atau berprasangka buruk pada orang lain dan tidak berdusta bila bicara dan sangat santun, apakah itu yang dinamakan taqwa ?
Hamka mengatakan dalam taqwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, sabar dsb. Rasulullah pernah bertanya kepada Abu Hurairah :" Pernahkah engkau bertemu jalan yang berduri ? Bagaimana tindakanmu pada waktu itu ?" Sahabat tersebut menjawab :"Apabila aku melihat duri, aku menghindar ke tempat yang tidak berduri atau aku langkahi, atau aku mundur". Rasulullahpun bersabda :"Itulah taqwa".
Untuk lebih jelas pengertian taqwa terutama aplikasinya dalam kehidupan, sebuah hadits dalam shahih Muslim meriwayatkan sebagai berikut, Sahabat Jabir r.a telah berkata : "Pada suatu hari kami berada di sisi Rasulullah. Tiba-tiba datang sekelompok orang yang tidak berpakaian layak dan kelihatan kotor, serta menenteng senjata. Kebanyakan mereka dari Bani Mudhar, bahkan dapat dikatakan hampir seluruhnya dari Bani Mudhar. Wajah Rasulullah kelihatan sangat prihatin menyaksikan penderitaan dan kefakiran yang menimpa orang-orang tersebut. Lalu Rasulullah saw keluar dan memerintahkan kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan.
Sesaat kemudian shalatpun didirikan. Setelah selesai, Rasulullah menyampaikan khutbah: "Wahai umat manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya. Dan daripada keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. "Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan namaNya kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS An Nisaa' : 1).
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari depan." (QS Al Hasyr : 17)
Mendengar khutbah Rasulullah, banyak diantara para sahabat yang kemudian memberikan sedekah. Ada yang memberikan uang dirham dan dinarnya, ada yang bersedekah baju, gandum, kurma, bahkan ada yang memberikan separuh buah kurma dan ada seorang Anshar yang membawa sekarung bahan makanan sampai dia tak kuat mengangkatnya. Dan akhirnya banyak orang yang berdatangan memberikan sedekah untuk membantu penderitaan kawannya dari Bani Mudhar, sehingga Rasulullah merasa kewalahan. Lalu Rasulullah bersabda :"Barangsiapa membuat sunnah hasanah (perilaku yang baik) di dalam Islam, maka dia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa harus mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa membuat sunnah sayiah (perilaku buruk) di dalam Islam, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengikuti jejaknya tanpa harus mengurangi dosa mereka sedikitpun."
Rasulullah pernah ditanya: "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang cerdas?" "Orang yang berfikir (menggunakan akalnya)" Jawab Nabi. "Lalu siapakah yang baik ibadahnya?" tanya mereka. "Orang yang berfikir (menggunakan akalnya)" Jawab Nabi. "Lalu siapakah yang paling utama ?" tanya mereka selanjutnya. "Orang yang selalu berfikir (menggunakan akalnya)" Jawab Nabi kembali.
Mereka berkata : "Wahai Rasulullah, bukankah orang yang berfikir itu sempurna akhlaknya, baik tutur katanya, pemurah tangannya dan tinggi kedudukannya?" Nabi saw menjawab :"Semua itu faktor penyebab kepuasan di dunia, sedangkan di akhirat yang di sisi Tuhan itu hanya bagi orang yang bertaqwa, orang berfikir (menggunakan akalnya) itulah orang yang bertaqwa, sekalipun kelihatannya rendah hidupnya di dunia."
Semoga dengan memahami makna kata taqwa dan penjelasan serta aplikasinya yang diuraikan pada dua hadits diatas, insya Allah kita akan mampu dan berusaha untuk mencapai derajat muttaqiin.
Badan Dakwah Islamiyah Devon Nana Djumhana)
eramuslim.com
. Berbicara, Mendulang Pahala atau Dosa?
Bicara adalah kebutuhan.. Dengan bicara gagasan-gagasan yang tersimpan di kepala, dan emosi yang tersimpan di hati jadi bisa ditangkap oleh orang lain. Hal ini akan memberikan kepuasan tersendiri bagi kita. Bahkan menyehatkan! Apalagi bila kemudian gagasan dan emosi kita ini direspon oleh lawan bicara, tentu ini makin membuat kita merasa diperhatikan.
Begitu banyak orang yang merasa diterima di sebuah lingkungan hanya gara-gara dia bisa mendominasi pembicaraan atau karena orang-orang mau mendengarkan kata-katanya, juga mengagumi isi ceritanya. Respon yang positif ini akan mendorong seseorang untuk melakukaan hal yang sama di lain tempat dan waktu.
Sebaliknya banyak orang yang merasa ditolak hanya gara-gara dia tidak bisa mengimbangi lawan bicaranya, atau tak ada yang mengagumi cerita-ceritanya, bahkan tak ada yang mau mendengarkan kata-katanya.
Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya. Semua kata yang keluar dari lisan seorang muslim seharusnya punya konsekuensi yang lebih besar dan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Ini disebabkan seorang muslim berbicara diawali dengan pemahaman atas apa yang dia bicarakan dan pemahaman atas konsekuensi-konsekuensi dari apa yang dia bicarakan, tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat.
Pemahaman atas apa yang dia bicarakan membuat seorang muslim tidak bicara “ngaco”. Ilmu menjadi dasarnya, baik ilmu yang diperoleh dari pendidikan formal maupun nonformal, bahkan ilmu dari pengalaman hidup sekalipun. Pemahaman terhadap ilmu ini akan membuat seorang muslim bisa bijaksana memilah kata-kata yang tepat, sesuai dengan latar belakang dan kecenderungan orang yang diajak bicara.
Pengetahuan tentang konsekuensi atas apa yang dia bicarakan pun akan mendorong seorang muslim untuk menjaga lisannya agar hanya mengeluarkan kata-kata terbaik yang mengandung kemanfaataan dan keselamatan bagi orang lain. Bukan sekedar kata-kata basa-basi dengan harapan mendapat decak kagum dari orang lain. Bukan juga kalimat-kalimat manis yang diluncurkan hanya untuk tujuan-tujuan dan kepentingan pribadi, tanpa ada nilai manfaatnya bagi orang lain.
Dalam beberapa hal, ini masih bisa ditolerir pada batas-batas tertentu. Namun bila kemudian menjadi kebiasaan yang berkepanjangan dikhawatirkan bisa menjerumuskan kita pada kata-kata dusta tanpa kita sadari, hanya untuk tujuan ini; tujuan pengakuan dari orang lain. Sungguh, sebuah kebohongan yang kita ucapkan sekali, dan kemudian kita ulangi kedua kali bahkan sampai ketiga kalinya tanpa adanya penyesalan akan menjadikan kita terbiasa olehnya.
Satu kata kebaikan yang keluar dari lisan seorang muslim pun punya konsekuensi bahwa dialah orang pertama yang melaksanakan kata-katanya tersebut. Apa pun kata-kata itu; diucapkan langsung ataupun dalam bentuk tulisan. Bukan suatu yang mudah memang. Kadang tuntutan ini membuat kita jadi takut mengajak orang lain pada kebenaran. Akhirnya kita lebih memilih diam. Padahal satu kebaikan yang kita sebarkan melalui kata-kata kita, kemudian orang lain ikut melaksanakan, maka pahalanya akan mengalir kepada kita tanpa mengurangi pahala orang yang melaksanakannya sedikit pun. Apalagi jika kebaikan itu terus menyebar dan dilaksanakan oleh banyak orang, terus dan terus.
Begitu murahnya Allah memberikan balasan berlipat-lipat atas kebaikan yang telah kita ucapkan kepada orang lain, walau itu hanya sepatah kata. Jika kemudian Allah juga menuntut kita untuk melaksanakan kata-kata kita, itu bukan bermaksud untuk memberatkan, tapi untuk menunjukkan kepada kita bahwa apa pun yang keluar dari lisan kita akan dimintai pertanggungjawabannya.
Berbicara untuk kebaikan dan kemanfaatan akan mudah kita lakukan jika ini sudah menjadi kebiasaan.Tanpa diformat terlebih dahulu, semuanya akan mengalir dengan sendirinya. Mudah dan ringan. Tentu saja bagi yang belum terbiasa harus memformat awal semua kebaikan di dalam kepala dan hati kita, kemudian kita ingatkan diri kita untuk mengulanginya kembali, melaksanakan sedikit demi sedikit apa yang kita mampu, berulang-ulang, sampai kemudian menjadi kebiasaan yang keluar secara otomatis. Yang jelas memang butuh waktu dan proses. Dengan demikian gagasan-gagasan dan emosi yang tersimpan di kepala dan hati bisa kita keluarkan dengan lebih baik, tanpa menimbulkan kesia-siaan bagi diri kita juga bagi orang lain.
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Sangat besar kemurkaan Allah atas apa yang kamu katakan tapi tidak kamu perbuat.” (ash shaff : 2-3). Wallahu a’lam. (Kinan Nasanti)
eramuslim.com
. Orang Beruntung
Ketika seorang bayi menjerit kelaparan, disertai ratapan ibunya yang tidak bisa berbuat apa-apa selain berdo’a dan penuh harap. Ketika seorang bapak jatuh bangun banting-tulang untuk mendapatkan sesuatu yang halal dalam memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Kepedulian terhadap sesama ummat manusia yang sekiranya bisa diberikan kepadanya tidak juga ia dapatkan. Sementara masing-masing orang sibuk dengan urusannya yang mungkin juga untuk melakukan hal yang sama.
Apakah bagi sebagian orang yang hidup dengan tingkat ekonomi lebih baik, ada sedikit rasa iba jika di lingkungannya masih ditemukan segelintir orang yang masuk dalam kelompok fakir miskin, yatim piatu, dan lain-lain? Adakah orang-orang yang memiliki kemampuan dan kekuasaan membantu merubah nasib -yang bukan hanya nasibnya sendiri- orang lain?
Benar bahwa segala sesuatu yang diperbuat oleh manusia kembali kepada niatnya. Ada yang ikhlas karena Allah, ada yang hanya ingin mendapat simpati dari orang lain, ada juga yang berniat untuk menutupi kekurangan yang ada dalam dirinya, dan bahkan ada juga yang dengan sengaja dilakukan semata-mata hanya untuk melicinkan tujuan buruknya tercapai.
Dalam keadaan masyarakat yang penuh dengan ketidakpastian dalam segala hal, figur seseorang yang awalnya bisa diharapkan (karena tidak ada pilihan lain) menjadi seorang pemimpin dan bahkan berjanji akan merealisasikan harapan sebagian besar orang yang dipimpinnya, malah diluar dugaan menjadi bumerang dan sumber dari segala sumber masalah. Inkonsistensi serta ketidaktegasan dalam menjalankan roda kepemimpinannya, mengakibatkan banyak opini yang menyebutkan bahwa perdebatan karena perbedaan pendapat yang terjadi diantara para pembantu dan orang terdekatnya dapat menciptakan krisis moral yang mengawali terbentuknya mental-mental korupsi, kolusi, dan nepotisme disetiap sudut-sudut instansi pemerintah maupun swasta dari tingkatan yang paling atas sampai pada tingkat cleaning service.
Hal itu sebenarnya juga disadari oleh mereka yang sedang “bermain” dengan jabatan, harta, dan kekuasaan yang dimiliki. Tetapi mereka berdalih bahwa tujuan duniawi yang sedang mereka kejar adalah semata-mata agar terhindar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan. Namun hanya sebagian kecil dari mereka menyadari bahwa sebenarnya yang mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi adalah mental dan moral mereka sendiri yang mengambil kebijakan untuk kepentingan mereka sendiri. Namun mereka juga tetap tidak peduli.
Seandainya pemimpin tersebut berniat karena Allah untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat yang sudah hampir punah dengan memanfaatkan kondisi dan situasi yang sifatnya nasional atau bahkan internasional untuk menetapkan kebijakan yang dapat mengangkat derajat dan martabat serta harga diri para pengikutnya. Insya Allah, dukungan yang semula sirna akan kembali bersinar. Dan jalan menuju tahta yang lebih baik dengan kepimpinan yang islami akan mudah dicapai. Karena yakinlah bahwa setelah ada kesulitan maka akan ditemukan kemudahan.
Tetapi jika hal tersebut datas dilakukan dengan niat dan tujuan agar setelah moment untuk mengembalikan kepercayaan tersebut dapat dipilih kembali dan mengulangi lagi penderitaan rakyat serta membentukan mental dan moral KKN atau bahkan lebih parah lagi. Percayalah, bahwa tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari Allah, baik yang ada di bumi maupun ada di langit.
Jikalau memang ada niatan seperti itu, besar kemungkinan bahwa prestasi yang akan selalu digembar-gemborkan dengan bangga dan sangat gigih hingga pada saat pemilihan nanti adalah kebijakan yang bersifat nasional atau internasional seperti yang disebutkan diatas sebelumnya. Mengenai tindakannya yang sengaja menyengsarakan rakyat akan berusaha sekuat mungkin untuk disembunyikan. Alangkah beruntungnya pemimpin seperti itu, bisa mengambil simpati serta keuntungan dari orang yang telah ditindas untuk kemudian ditindas kembali atas kepemimpinannya untuk yang kesekian kalinya.
Hanya Allah tempat kita bersandar, kepada Dialah kita memohon pertolongan. Karena sesungguhnya manusia itu tidak pernah akan merugi jika beriman kepadaNya. Janganlah berpikir kehidupan duniawi itu lebih baik dari kehidupan akhirat, karena dunia hanyalah merupakan fasilitas bagi manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dihari akhir nanti. (Ibrahim)
eramuslim.com
| | Ikhlas Tak Harus Beralasan
|
|
|
| ||
Terik siang itu ditambah beberapa masalah yang hadir tanpa diundang, baik urusan kantor maupun pribadi membuatku tidak semangat, termasuk pekerjaan yang biasanya kusuka, mengitari jalan-jalan kota. Aku bagian dari sebuah keluarga, mengantarkan anak-anak ke sekolah atau sekedar main termasuk tugasku. Walau diawali dengan bismillah, hati ini belum bisa tenang.
Aku berangkat dengan setengah hati. Tak boleh memang, merenung sambil nyetir, tapi itulah yang sedang kulakukan. Tiba-tiba lamunanku dipaksa berhenti, lampu merah itu telah mengundang seorang waria mendekati mobil yang kukendarai. Setengah dongkol ku kibaskan tangan dan tampangku mungkin kusut sekali. Waria itu pergi bersungut-sungut, mungkin sambil memaki karena kulihat bibirnya bergerak tak bersahabat. Begitu juga aku "Uh, pemalas banget sih.. ga punya rasa syukur sama sekali, ngemis pula lagi!" Kata-kata itu mengalir dalam hati tanpa bisa ku rem sama sekali.
Di persimpangan berikutnya, kembali aku terhalang oleh lampu merah. Hatiku masih belum bisa kompromi walau telah banyak doa yang kulantunkan. Hingga akhirnya, ada seorang yang membawa kemoceng menyapukan kemocengnya ke kaca depan mobil. Kembali aku gerah.
Dengan gerakan yang sama seperti kepada waria tadi, kuisyaratkan untuk tidak meneruskan, tapi dia tak peduli. "Ah, biar saja... toh aku ga nyuruh kok!" Hatiku membatin. Ketika dia minta aku untuk membayar atas jasanya, aku pura-pura tidak mendengar. "Toh, aku ga minta kok". Dia pergi tanpa ekpresi.
Lagi, di persimpangan berikutnya .. lampu merah lagi ! Kali ini, dari kejauhan aku melihat dua anak berusia sekitar dua belas tahun menggendong seorang bayi sedang mengemis.
Entah kenapa, hatiku sangat yakin anak dalam gendongan itu bukan bayi mereka atau adik-adik mereka. Betapa teganya orang memperdagangkan anak di bawah umur. Kaca mobil ku turunkan perlahan, ingin mengamati dengan seksama kedua anak tadi. Ada rasa kesian bercampur kesal. Ah, apakah memang sulit sekali untuk hidup? Tiba-tiba sebuah alunan harmonika membuatku tersentak dari lamunan, renungan .. dan semua bisikan hati.
Seorang laik-laki kurus, berbaju kumal sedang melantunkan suara harmonikanya. Tak sadar aku terhanyut.. masalahku seakan melayang bersama alunan harmonikanya. Walaupun gitu, sepeser uang yang diharapkannya tak kunjung ku beri .. karena dari tadi, aku masih mempersoalkan cara mereka mencari nafkah.
Penolakanku dijawabnya dengan senyum sembari berkata "Semoga Allah memudahkan semua urusan Ibu". Suara itu terdengar begitu tulus.. Ketika tanganku berusaha merogoh uang di kantong dia telah berlalu seiring lampu hijau yang menyala. Tetes air mata tiba-tiba meleleh .. Aku menyesal. "Haruskah keikhlasan dibatasi oleh banyak alasan ?" Uang itu masih ku genggam di tangan.
Andai aku bisa kembali dan memberikannya, tapi saat itu tidak mungkin karena jalan yang kulalui satu jalur. Senyum dan doa itu begitu tulus.. Hatiku perih, betapa egoisnya aku, hanya memikirkan masalah yang kuhadadapi. Bagaimana dia ? Mungkin bibirnya sudah penat dari tadi meniup harmonika ditambah rasa haus di terik siang, tapi bibir itu masih lentur digerakkan untuk tersenyum.
Mungkin putera-puterinya sedang menunggu uang yang dikumpulkannya untuk membayar SPP atau mungkin bayinya sedang haus kehabisan susu. Ah..... Sementara aku, masih bisa berleha-leha di sebuah mobil ber-ac. Betapa tidak bersyukurnya aku.
Doanya mungkin diijabah, masalahku seakan terselesaikan begitu saja. "Ya Rabb, ampuni hamba-Mu. Beri aku kesempatan untuk jadi seorang pecinta, seperti cinta yang Kau tebarkan pada seluruh makhluk-Mu."
"Ikhlas itu mencakup dua hal, yaitu menyertakan niat dan membebaskannya dari berbagai noda" (Dr. Yusuf Qhardawy)' ..Demi keuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka." (Q.S Shad [38] : 82-83). Ikhlas tidak dibatasi oleh alasan, karena ikhlas hanya bertujuan untuk mencari keridhaan Allah semata. Semoga aku bisa... ***
manajemenqolbu.com
. Aku Menyaksikan Tangismu
Dia menelungkup, membenamkan wajahnya pada kedua tangan yang dilipat di atas meja, kemudian menangis tanpa suara. Sesaat hening, samar-samar Raihan bersenandung puji-pujian melalui speaker komputer. Kami bertiga duduk berhadapan dalam sebuah laboratorium kedap suara.
“Kapan kejadiannya?” tanyaku setengah berbisik. Dia mengangkat wajah dan menerima selembar tissue yang disodorkan ikhwan. “Kamis malam” katanya pendek. Bagaimana mungkin? Kemarin dia terlihat ceria seperti biasanya, alangkah pandainya dia menutupi semua kesedihannya, kataku dalam hati.
“Lalu apa yang terjadi?” ikhwan bertanya. “Aku menahan tangan ayah yang sudah mengangkat meja, aku tidak mungkin membiarkan Ibu dipukuli meja kayu.” jawabnya “Kejadiannya cepat, dan aku hilang kontrol, aku tidak bisa menahan diri seperti biasanya, aku akan memukul Ayah, tapi adikku menghalangi Kami, dan menjerit-jerit.” lanjutnya. “Aku ditarik Ibu masuk kamar, Kami berdua mengunci pintu, Ibu menggigil ketakutan, Ayah menggedor-gedor pintu, berteriak-teriak memaki, kemudian berusaha mendobrak masuk., tapi tidak berhasil”.
Dia menghela napas “Ayah mulai memecahkan kaca-kaca, bahkan kaca di atas pintu kamar, pecahannya jatuh menancap hanya satu senti dari tanganku. Ayah lalu berteriak-teriak dan mengancam akan membakar rumah.”
“Apa?” aku dan ikhwan berseru kaget. “Ya, tapi alhamdulillah tiba-tiba nenek datang, beliau langsung menjerit-jerit karena ternyata adikku pingsan, jadi perhatian Ayah langsung teralihkan. Aku dan Ibu akhirnya keluar setelah nenek mengetuk pintu.” Jawabnya, “Tentu saja ayah menyalahkanku karena kejadian ini, dia memaki aku di hadapan saudara-saudaraku yang datang kemudian. Akhirnya adikku siuman jam 6 pagi. Aku pergi kerja setelah didesak Ibu, aku sempat berpesan pada Ibu untuk pergi dari rumah kalau Ayah berusaha menyakitinya lagi”.
“Apa Ayahmu melakukannya lagi?” Tanya ikhwan “Tidak, kemarin dia pergi, entah kemana, mungkin berjudi lagi, Ayah baru pulang larut malam.” Katanya “Ugh menyebalkan” kataku tanpa sadar, “Mestinya Ayahmu diadukan ke Asosiasi Pembelaan Perempuan, biar dipenjara.”
“Yaaa mesalahnya keadaan tidak sesederhana itu kan..” kata ikhwan. Tiba-tiba dia tersenyum, lalu bangkit “Terima kasih ya kalian sudah mendengarkan, terima kasih.” sebelum melangkah ke luar ruangan dia berkata, “ Semoga suatu saat keadaan membaik.”
Aku dan Ikhwan termenung.
Aku memandang gerimis lewat kaca jendela kamar, mengingat kejadian tadi siang. Baru pertama kali aku menyaksikan ia menangis setelah 2 tahun aku berteman dengannya. Aku tidak pernah menyangka bahwa masalah yang ia hadapi begitu berat, sampai ia memutuskan untuk menceritakannya pada diriku dan Ikhwan. Kami bertiga bersahabat baik, hampir sebaya. Tiba-tiba aku menangis, air mataku jatuh satu-satu…
Kata-katanya tadi siang masih terngiang :
Ayahku pemarah.Ayahku dulu sering selingkuh. Sekarang tidak, tapi dia suka berjudi. Dia sering memaki Ibu. Dia sering menyakiti Ibu. Padahal Ibu lah yang bekerja keras. Padahal aku yang membiayai adikku sekolah. Tapi Ayah tetap tidak perduli. Dia tetap menyakiti kami. Dan Ayah mengancam Ibu..
Dia tidak sanggup lagi berkata…lalu dia menangis….dan aku menyaksikan tangisnya..
Sekarang aku mengerti….mengapa dia melewatkan begitu banyak kesempatan kerja di luar kota, padahal gaji yang akan diperoleh lebih dari apa yang telah dia dapatkan di perusahaan tempat kami bekerja… karena dia tidak mungkin meninggalkan Ibunya, dan belum mampu membawa serta Ibunya dengan kondisi keuangan seperti saat ini. Sekarang aku mengerti…mengapa dia menunda untuk menikah, karena saat ini dia hanya ingin mencintai Ibunya..Ibunya yang sudah sebatang kara dan sering disakiti Ayahnya…
Sekarang aku mengerti....mengapa dia begitu peka terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan seorang Ibu..
Sekarang aku mengerti…dia telah mengorbankan semuanya….Untuk melindungi dan memuliakan Ibunya..
Aku teringat jawaban Rasulullah saw saat seorang sahabat bertanya tentang orang yang mesti dimuliakan..”Ibumu..ibumu…ibumu…, setelah itu baru Ayahmu..”
Di luar, gerimis telah menjadi hujan lebat…(Maret 2004, pinka@eramuslim.com)
Untuk sahabatku, semoga Allah melimpahkan kasih sayangNya padamu dan Ibumu…
eramuslim.com
. Belajar Bersyukur
Seorang Ibu terlihat gusar, setelah melihat tumpukan piring kotor di dapurnya. Semua itu bekas makan siang beberapa orang tamu yang baru saja berkunjung. Bukan karena banyaknya cucian piring, tetapi masih terlihatnya potongan-potongan daging bersisa, belum lagi sisa nasi yang masih menumpuk di piringnya. Ah… padahal untuk menyediakan lauk pauk itu tentu si ibu mesti mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Semua itu demi menjamu tamunya.
Kalau saja para tamu itu hanya memakan daging dan mengambil nasi secukupnya saja, tentu tidak akan ada makanan bersisa di piring kotor. Dan anak-anaknya bisa ikut menikmati sebagian daging utuh lainnya. Melihat sisa potongan daging itu, si Ibu bingung, mau di buang ... sayang... mau di olah lagi… sudah kotor bercampur sisa makanan lain…. tapi Alhamdulillah tetangga sebelah punya kucing… mungkin ini rezeki si kucing.
***
“Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl:18).
Begitu banyak nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat iman, nikmat sehat, nikmat penghidupan (harta, ilmu, anak, waktu luang, ketentraman, dan lain-lain) serta nikmat-nikmat lain yang tak terkira. Namun dengan sekian banyak nikmat yang Allah berikan seringkali kita lupa dan menjadikan kita makhluk yang sedikit sekali bersyukur, bahkan tidak bersyukur, Na'udzubillahi min dzalik…
Seringkali kita baru menyadari suatu nikmat bila nikmat itu di ambil atau hilang dari siklus hidup kita. Ketika sakit, baru kita ingat semasa sehat, bila kita kekurangan baru kita ingat masa-masa hidup cukup.
Syukur diartikan dengan memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita, berupa perbuatan ma’ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri pada-Nya.
Cobalah kita memikirkan setiap langkah yang kita lakukan. Bila makan tak berlebihan dan bersisa. Bayangkan, di tempat lain begitu banyak orang yang kesulitan dan bekerja keras demi untuk mencari sesuap nasi. Bahkan banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung, mencari makan dari tong-tong sampah. Lantas sedemikian teganyakah kita menyia-nyiakan rezeki makanan yang didapat dengan berbuat mubazir.
Ketika punya waktu luang malah dipergunakan untuk beraktivitas yang tidak bermanfaat bahkan cenderung merugikan orang lain. Kala tubuh sehat, malah lebih banyak dipakai dengan melangkahkan kaki ke tempat tak berguna. Tidak terbayangkah bila nikmat itu hilang dengan datangnya penyakit atau musibah lainnya. Ah... alangkah ruginya… karena semuanya menjadi percuma disebabkan tidak bersyukurnya kita atas nikmat. Bahkan karena sikap-sikap tadi yang didapat hanyalah dosa dan murka-Nya. Na'udzubillah….
Kita harus berusaha mengaktualisasikan rasa syukur kita dari hal-hal yang sederhana. Setiap aktifitas sekecil apapun usahakan untuk selalu sesuai aturan-Nya, selaku pencipta kita. Kerusakan yang sekarang timbul di sekeliling kita tidak lain karena sikap kufur nikmat sebagian dari kita. Bayangkan, negara yang kaya akan sumber daya alam, tetapi sebagian besar rakyatnya miskin.
Untuk itu, tidak ada salahya bila kita mulai dari diri dan keluarga, belajar bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Agar nikmat itu jangan sampai menjadi naqmah (balasan siksa), karena kufur akan nikmat-Nya. Mulailah untuk sering melihat kondisi orang-orang yang berada di bawah kita. Jika sudah, tentulah kita akan lebih banyak mengatakan “Alhamdulillah”. Seperti dalam hadits Rasulullah Saw, ”Perhatikanlah orang yang berada di bawah tingkatanmu (dalam urusan duniawi), dan jangalah kamu memandang kepada orang yang berada di atasmu. Itu lebih layak bagimu supaya kamu tidak menghina pemberian Allah kepadamu.” (HR.Muslim).
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan nikmat (yang telah Engkau berikan), dari siksa-Mu yang mendadak, dari menurunkannya kesehatan (yang engkau anugrahkan) dan dari setiap kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar).
(Ervin Hidayati/ummu_fatih@yahoo.com)
eramuslim.com
| | Sebatang Sawo Istimewa
|
|
|
| ||
Kali ini aku tidak akan membahas morfologi atau manfaat sebatang sawo dalam ilmu kesehatan. Sawo kali ini berbeda dengan sawo-sawo yang tumbuh di belahan bumi manapun. Sawo ini hanya tumbuh di pekarangan rumah kami (aku sekeluarga), SEBATANG SAWO ISTIMEWA. Pohon sawo itu telah dua tahun menghiasi pekarangan rumah kami, belum pernah berbuah, padahal dibeli saat sedang berbunga. Rajin berbunga tapi selalu gugur.
Karena kesal, aku marah sambil mengancam “ Dalam waktu setahun ini kamu nggak berbuah, aku akan cabut sampai ke akar-akarmu!”. Omongan ini terus-terusan kulontarkan berbekal sebuah literatur yang pernah kubaca bahwa tumbuh-tumbuhan merespon setiap aktivitas yang terjadi di sekitarnya, termasuk suara.
Mungkin tidak ada kaitannya buah yang muncul pada setiap rantingnya di tahun itu dengan ancamanku, setidaknya sawo itu sekarang berbuah. Tinggi pohonnya tidak sampai dua meter, hingga tidak sukar untuk mengamati perkembangannya. Sampai suatu hari, entah dari mana datangnya ide itu, papa berteriak memanggil kami semuanya. Kemudian berkata, “Kita hom pim pah di setiap sawo yang papa tunjuk, yang menang berarti pemiliknya dan berhak menorehkan nama di sawo itu. Ketika matang nanti, tidak ada seorang pun yang boleh mengambil kecuali pemiliknya.” Terkesan lucu, tapi kami semua sepakat. Persis seperti anak-anak usia sekolah dasar, papa, mama, aku dan tiga orang adikku semangat hom pim pah sampai sawo keenam. Ya ! Enam sawo lengkap dengan nama masing-masing pemiliknya, ditoreh pakai paku.
Beberapa bulan kemudian, terdengar teriakan Ul (adik bungsuku) dari pekarangan “Da If, cepat ke sini, sawomu mataaaang !” memanggil abangnya. Tanpa dikomando, bukan If aja yang datang, semuanya berhamburan serentak. Sawo itu matang abnormal karena besarnya hanya setengah dari sawo berukuran normal. Saking senangnya, sawo mini itu dibagi-bagi enam oleh If dan kami semua menikmatinya. Masing-masing hanya dapat seruas jari, tapi tidak mengurangi kelezatan sawo itu. Sampai akhirnya, sawo milik papa, mama, aku dan dua adikku lainnya matang seluruhnya.. kami begitu sabar menunggu giliran masing-masing.. dan tetap dengan keriangan yang sama. Tidak seorangpun di antara kami yang mendapati sawo miliknya matang dengan mata sendiri. Mama tahu sawonya matang dari aku, dst.
Di sawo keenam, papaku berkata dengan bijak “Papa senang, nilai-nilai kejujuran masih tertanam di keluarga kita. Kalau ada yang berniat untuk berbohong, sebenarnya mudah saja, tinggal ambil dan makan.. kemudian pura-pura tidak tahu, tapi kalian tidak lakukan itu. Lagi-lagi papa bangga, kebersamaan masih tercipta di antara kita, papa yakin sawo itu tidak mengenyangkan pemiliknya karena ukurannya yang sangat kecil .. tetapi tanpa diminta, kalian tetap bahagia membaginya rata. Pertahankanlah, hanya ini benda berharga yang kita punyai, saling menghargai dan tidak pernah kikir untuk berbagi. Papa harap pelajaran dari SEBATANG SAWO ini akan tetap terpatri di hati dan pikiran kalian sekalipun papa dan mama nanti telah tiada.”
Setiap kali ada sawo yang matang tidak pernah ada yang memakannya sendiri… kecuali ada enam sawo matang sekaligus. Ah, kebersamaan itu begitu terasa. Terimakasih Allah.
Sebatang sawo yang tadinya mengesalkan sekarang menjadi begitu berarti. Walaupun dia tidak rajin berbuah, aku tidak pernah berniat lagi untuk memangkasnya, karena dia jadi begitu istimewa… setiap melihatnya, kami selalu teringat dengan pesan papa. Insya Allah, Pa..
“Rabb, kasih sayang ini berasal dari-Mu, tolong kami untuk menjaganya…Jangan biarkan kami menjadi egois, tertipu nafsu dunia”
Aku yakin, banyak cara dari seorang ayah untuk membina kebersamaan keluarganya. Kisah ini hanya satu dari sekian kisah…. Moga bermanfaat.
Wallahu a’lam (fa/mq) © 2003 www.manajemenqolbu.com***
*Sahabat-sahabat, izinkan aku mengagumi papaku. Mohon doanya…
Vila sekpim DT Bandung, 15 Mei 2003
Agar tetap bercahaya di tengah gelap
Ingin Menikah Tetapi Calon Suami Belum Bekerja
| | Agar Tetap Bercahaya di Tengah Gelap | |
| | | |
Berbaur dengan orang lain bukan tanpa resiko. Itu sebabnya Rasulullah saw lebih memuji orang yang mau berbaur dengan masyarakat dan mampu bersabar atas resiko dan kesulitan-kesulitannya, ketimbang orang yang tak mau berbaur dan tak mampu bersabar. Jadi syaratnya jelas, sabar.
Tanpa sabar bukan mustahil perbauran justru mendatangkan akibat negatif.Orang yang tidak sabar, bukannya mampu memberi warna dan pengaruh pada orang lain, tapi dikhawatirkan justru ia terbawa dan terwarnai oleh lingkungannya.
Dan kesabaran tak mungkin berdiri sendiri. Ada perangkat lain yang dibutuhkan agar seseorang mampu bertahan dan bersabar menghadapi berbagai gejolak dan resiko dari berbaur.
Pertama, memelihara niat ikhlas. Fondasi ikhlas yang kokoh takkan mampu menggoyahkan pemiliknya ketika ia harus menghadapi situasi sulit akibat dari kebenaran yang ia lakukan. Hidup berbaur dengan tetap mempertahankan identitas dan prinsip pasti menghadapi banyak tantangan. Bukan saja tantangan yang sifatnya menekan atau menghalangi, tapi juga tantangan yang datang dari pintu rayuan dan godaan. Disinilah keikhlasannya diuji. Karenanya, keikhlasan menjadi faktor terpenting untuk bisa menjadi pribadi yang kuat bertahan dengan prinsip dalam berbaur.
Kedua, meningkatkan ilmu pengetahuan. Seorang muslim dimanapun mempunyai misi. Sebuah misi harus diiringi dengan wawasan muatan pesan yang dibawanya. Wawasan ilmu dalam hal ini mencakup ilmu syariat yang berkait langsung dalam kehidupan masyarakat. Kekurangan bekal ilmu dapat menyebabkan seseorang terlalu mempermudah atau mempersulit masalah. Seorang muslim harus mengetahui batas keluasan dan keluwesan Islam. Sampai dimana batas-batas yang bisa ditolerir oleh syariat dan dimana batas-batas yang tidak dapat ditolerir. Rasulullah saw bersabda, “Berilah kabar gembira dan jangan menceraiberaikan. Permudahlah, jangan mempersulit.”
Ketiga, menjaga keteladanan dalam perilaku. Hal ini penting, karena umumnya masyarakat tidak terlalu tertarik pada uraian kata berupa nasihat atau wejangan. Mereka akan simpatik justru pada sikap dan perilaku baik yang langsung mereka lihat. Para ulama dakwah kerap mengumandangkan prinsip, “Ashlih nafsaka wad’u ghairaka,” atau perbaiki dirimu baru seru orang lain. Ini adalan tuntutan dalam syariat Islam.
Keempat, jangan lupa untuk selalu menjaga dan meningkatkan kualitas hubungan dengan komunitas orang-orang shalih. Hal ini penting agar jiwa kita tetap memperoleh suplai semangat dan penyegaran saat bertemu dengan mereka. Rutinitas ini bahkan harus semakin ditingkatkan saat kita menghadapi banyak permasalahan dalam hidup.
Kelima, memahami pedoman dan tahapan dakwah. Kewajiban Islam itu bertingkat-tingkat. Sebagaimana kemungkaran juga bertingkat-tingkat. Diperlukan start tertentu yang berbeda-beda dalam mengadakan pembenahan. Suatu pola yang berhasil diterapkan pada seseorang, belum tentu bisa diterapkan pada orang lain. Selain pola pendekatan yang khas, seorang muslim seharusnya meyakini bahwa sebuah perubahan selalu memerlukan waktu. Sehingga, seorang muslim tidak akan mudah kecewa atau merasa gagal terhadap upaya perbaikan yang dilakukannya.
Keenam, memahami seni bergaul dengan orang lain. Berbaur dan berinteraksi dengan manusia tidak mudah karena masing-masing mereka memerlukan pendekatan tersendiri, sesuai dengan karakternya.
Ketujuh, perluas dan perbanyaklah pengalaman (tajribah). Aspek ini mempunyai pengaruh besar dalam membentuk pribadi yang bijaksana dalam berbaur dengan orang lain. Orang yang memiliki pergaulan luas, dari sisi syariat ilmunya lebih bermanfaat dan dakwahnya akan lebih cepat diterima karena ia telah menempatkan diri sesuai kondisi. Pengalamanlah yang akan memunculkan potensi, menambah kearifan dan kesabaran.
Maroji’ : Tarbawi




